banner 728x250

Garuda Pergi, Matahari Padam: Tanjungpinang dan Rasa Kehilangan yang Tak Pernah Usai

Ketika penerbangan berkurang, swalayan menutup pintu, dan warga bertanya: masih adakah pemimpin yang benar-benar hadir di pulau ini?

banner 120x600
banner 468x60

Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Tanjungpinang kembali kehilangan satu lagi “tanda kehidupan”. Setelah Matahari Department Store menutup gerainya, kini kabar pamit datang dari langit: Garuda Indonesia tak lagi melayani rute dari Kota Gurindam.

banner 325x300

Kabar ini mencuat lewat sebuah unggahan Facebook dari akun Zul Khaidir di grup InfoPinang, pada Kamis, 22 Januari 2026. Kalimatnya singkat, tapi nadanya getir.
“Setelah Matahari tutup, sekarang Garuda Indonesia pamit dr Pinang. Masih adekah gubernur, walikota dan bupati di pulau ini?”

Sebuah pertanyaan sederhana, tapi mengandung keresahan kolektif yang sudah lama dipendam.

Bukan Sekadar Maskapai yang Pergi

Kepergian Garuda bukan berdiri sendiri. Warganet dengan cepat mengingatkan bahwa daftar “yang pamit” dari Tanjungpinang sudah cukup panjang.

Iqbal Rilansyah, misalnya, menyebut bahwa bukan hanya Garuda dan Matahari yang angkat kaki.

Ramayana Supermarket, Timezone di Ramayana, dan sejumlah usaha lain juga bernasib sama.

“Keadaan di Pinang ini makin tertinggal dan sepertinya pihak yang berwenang seakan tutup mata. Jangan menormalisasi keadaan yang seperti ini,” tulisnya.

Kalimat “jangan menormalisasi” itu terasa penting. Sebab, perlahan tapi pasti, kepergian investor mulai dianggap hal biasa, padahal seharusnya jadi alarm keras.

Pemerintah: Kami Tak Punya Wewenang Langsung

Di tengah riuh komentar, akun Komdigi yang mewakili Pemerintah Kota Tanjungpinang ikut angkat suara. Isinya rapi, formal, dan sesuai buku teks birokrasi.

Intinya, rute penerbangan adalah kewenangan maskapai dan pemerintah pusat. Pemkot, kata mereka, tak bisa menetapkan atau menghentikan penerbangan. Yang bisa dilakukan hanyalah koordinasi dan komunikasi lintas pihak.

“Aspirasi masyarakat tentu menjadi perhatian dan akan terus diperjuangkan sesuai dengan koridor kewenangan yang ada.”

Pernyataan itu benar secara administratif. Tapi bagi warga yang kehilangan akses, pekerjaan, dan harapan, jawaban normatif sering terasa hambar.

Kota yang Ditinggal Anak Mudanya

Komentar lain datang dari Rinaldi Lispro, yang menyoroti dampak lebih panjang: migrasi.

“Orang Pinang waktu ke waktu bukan bertamba malah hilang melulu. Harus merantau cari makan.”

Ketika investasi tak datang, pabrik tak dibangun, dan lapangan kerja minim, kota ini pelan-pelan kehilangan generasi produktifnya. Yang tersisa adalah nama besar masa lalu dan cerita nostalgia.

Sementara itu, Jhonny Deep menyampaikan kritik dengan nada jenaka, tapi menohok.

“Makin sepi lah bandara tu, rame org joging aja.”

Sebuah ironi: bandara yang dibangun untuk mobilitas kini lebih hidup sebagai lintasan olahraga pagi.

Antara Doa dan Tanggung Jawab

Di antara nada marah dan satire, Syawaluddin memilih jalur reflektif.

“Mari kita berdoa bersama semoga fenomena iklim usaha pamit dari Tanjungpinang tidak berlanjut.”

Doa tentu penting. Tapi doa saja tak cukup jika tak dibarengi kebijakan yang berpihak pada iklim usaha, kemudahan investasi, dan keberanian mengambil terobosan.

Sebab, jika satu per satu pelaku usaha terus pamit, pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, melainkan siapa yang benar-benar peduli.

Dan mungkin, seperti yang ditanyakan sejak awal, warga hanya ingin memastikan satu hal: apakah para pemimpin di pulau ini masih benar-benar ada, atau hanya hadir di baliho dan spanduk ucapan?

Editor: Budi Adriansyah

banner 325x300
error: Content is protected !!