Radar Perbatasan, Batam – Lakuntara menilai rencana penataan kawasan New Nagoya berpotensi menjadi titik balik penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Batam. Hal itu dia sampaikan usai menghadiri diskusi strategis pembangunan kawasan tersebut bersama Wakil Menteri Koperasi dan UMKM Republik Indonesia, Farida Farichah, pada Jumat, 9 Januari 2026.
Salah satu fokus pembahasan adalah rencana pemerintah mengalokasikan sejumlah ruas jalan dan area publik di New Nagoya sebagai lapak UMKM terkurasi. Skema ini diharapkan tidak hanya memberi ruang berjualan, tetapi juga meningkatkan kualitas, daya saing, dan keteraturan UMKM di kawasan strategis Batam.
Menurut Lakuntara, pendekatan pembangunan yang memberi tempat bagi UMKM sejak tahap perencanaan menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan.
“Ini bukan sekadar menyediakan lapak, tetapi membangun ekosistem. UMKM harus ditempatkan sebagai bagian dari wajah kota, bukan pelengkap,” kata Lakuntara.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Wakil Menteri UMKM meninjau langsung aktivitas pelaku usaha kecil dan berdialog dengan pengusaha lokal. Berbagai persoalan mengemuka, mulai dari keterbatasan akses permodalan, lemahnya pemasaran, hingga kebutuhan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Lakuntara menyebut dialog langsung semacam itu penting agar kebijakan tidak berhenti pada konsep. Dia menekankan perlunya tindak lanjut konkret agar UMKM benar-benar merasakan dampak kehadiran negara.
“UMKM Batam punya potensi besar. Tantangannya bukan pada kemauan pelaku usaha, tetapi pada dukungan sistem dan kebijakan yang konsisten,” ujarnya.
Rencana pengembangan New Nagoya sebagai kawasan ekonomi berbasis UMKM dinilai sejalan dengan agenda pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Lakuntara optimistis, jika penataan kawasan dan kurasi UMKM dijalankan secara serius, Batam dapat menjadi model kota yang menjadikan usaha kecil sebagai penggerak utama ekonomi lokal.
Editor: Budi Adriansyah

















