Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Kalau ada lomba “ruang publik paling sering kalah oleh roda bermesin”, kawasan Gedung Gonggong dan tepi laut Tanjungpinang mungkin sudah langganan podium. Bukan karena desain kotanya futuristik, tapi karena motor cilik, ya, motor mainan bermesin itu, bebas berkeliaran seperti sedang latihan MotoGP edisi anak TK.
Keluhan ini kembali mencuat setelah sebuah akun Facebook bernama Pesulap Merah, bukan yang urusan dukun, tapi urusan logika, menyampaikan unek-uneknya di grup InfoPinang pada Selasa, 30 Desember 2025. Isinya singkat, lugas, dan mewakili banyak kepala yang sudah pening sejak lama.
Intinya satu: pengunjung Gedung Gonggong merasa terganggu dengan aktivitas motor cilik dan minta agar ditertibkan.
Permintaan itu, tentu saja, langsung mendapat respons resmi. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang, Teguh Susanto, dengan bahasa birokrasi yang rapi dan aman, menyampaikan terima kasih atas laporan tersebut. Pengaduan akan ditindaklanjuti dan diteruskan ke OPD terkait, katanya, untuk menjadi atensi.
Kalimat yang terdengar familiar. Terlalu familiar, bahkan
Sementara di kolom komentar, warga sudah lebih dulu menindaklanjuti dengan emosi yang jujur. Rachmatcha Tripurnama Gurindam menegaskan agar persoalan ini tidak dibungkus narasi klise “mematikan usaha kecil”. Menurutnya, pengusaha motor-motoran itu bukan warga yang hidup pas-pasan. Harga satu unit saja sudah cukup bikin dompet orang biasa menarik napas panjang.
Yovi Ardian menambahkan realita di lapangan: motor cilik bukan cuma di satu titik. Sepanjang tepi laut, mereka bebas main. Masuk kawasan bazar yang seharusnya ramah pejalan kaki? Bisa. Bahkan motor roda dua dan roda empat pun pernah mampir. Lengkap sudah: pejalan kaki jadi figuran di kota sendiri.
Kalau kata Yovi, kawasan tepi laut ini seperti masih mencari jati diri. Mau jadi ruang publik, tapi kok lebih mirip arena uji nyali.
Keluhan serupa disampaikan Edi Putra yang menilai usaha sepeda dan motor cilik sudah terlalu banyak dan makin meresahkan. Bukan cuma soal nyaman atau tidak, tapi juga soal keselamatan. Rudi Riyanto mengingatkan, kasus anak jatuh, tertabrak, hingga harus dibawa ke rumah sakit bukan cerita baru. Ironisnya, motor kecil itu sering dikendarai tanpa perlengkapan keselamatan. Helm? Jangan ditanya.
Nada frustrasi juga datang dari Raja Desi Lidia Ningsih. Dia mengaku sudah tidak nyaman, bahkan pusing, melihat anak-anak kecil kebut-kebutan dengan motor cilik dan sepeda listrik di kawasan yang seharusnya jadi tempat santai keluarga.
Dan di tengah semua itu, Hadi Mulyanto menyimpulkan dengan dua kata yang terasa paling jujur: semakin semrawut.
Masalah motor cilik di kawasan Gedung Gonggong sebenarnya bukan soal anti-anak, anti-usaha, atau anti-hiburan. Ini soal fungsi ruang publik dan kehadiran negara, atau setidaknya pemerintah kota, dalam menjaga akal sehat bersama. Ruang pejalan kaki ya untuk pejalan kaki. Bukan untuk adu kecepatan mesin, sekecil apa pun rodanya.
Kalau semua dibiarkan atas nama “biar rame” dan “kasihan usaha kecil”, jangan kaget kalau suatu hari nanti taman kota butuh rambu: Hati-hati, pejalan kaki melintas di jalur motor cilik.
Dan saat itu terjadi, mungkin pemerintah kembali akan bilang: terima kasih atas laporannya, akan kami teruskan ke OPD terkait.
Editor: Budi Adriansyah

















