banner 728x250

Malaka Kembangkan Ritual Adat “Hamis Oan” dan “Tebe Bei Mau” sebagai Destinasi Pariwisata Budaya Andalan

banner 120x600
banner 468x60

Malaka, 14 Desember 2025 –

Pemerintah Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, berupaya mengangkat kekayaan budaya lokal menjadi produk pariwisata unggulan. Dua ritual adat, yaitu Hamis Oan (ritual syukur hasil panen) dan Tebe Bei Mau (tarian adat), menjadi fokus pengembangan untuk menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

banner 325x300

Kepala Dinas Pariwisata Malaka, Aloysius Werang, menegaskan potensi besar kedua tradisi tersebut. “Malaka memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Ritual seperti Hamis Oan dan Tebe Bei Mau, yang setiap tahun dihadiri ribuan orang, memiliki daya tarik kuat untuk dijadikan destinasi pariwisata budaya,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (14/12/2025).

Werang secara khusus menyoroti keunikan Tebe Bei Mau. “Tarian ini sangat bagus karena melibatkan banyak orang dan seluruh rumpun masyarakat adat Malaka. Di dalamnya, ada prosesi saling melempar jagung yang memiliki makna mendalam,” jelasnya.

Makna Filosofis “Lempar Jagung” dalam Tebe Bei Mau

Prosesi lempar jagung dalam Tebe Bei Mau bukan sekadar atraksi. Setiap peserta membawa pulir (tongkol) jagung berukuran besar sebagai simbol kekuatan dan hasil kerja selama setahun.

“Ada nilai kompetisi yang sehat, di mana masing-masing peserta bersaing membawa tongkol jagung terbesar. Filosofi lempar jagung ini bermakna sebagai ‘perang’ dan uji kekuatan simbolis. Ini adalah simbol kekuatan hasil panen yang dipersembahkan kepada leluhur dan Rai Nain (Tuan Tanah),” papar Werang.

Ritual Syukur Pasca Panen

Secara umum, upacara Tebe Bei Mau dilaksanakan setelah masa panen jagung sebagai wujud syukur atas kelimpahan hasil bumi, yang diyakini berkat restu Tuhan dan leluhur masyarakat setempat. Sementara Hamis Oan juga memiliki semangat serupa sebagai ritual syukur.

Kedua ritual ini biasa digelar di Desa Kamanasa dan beberapa desa lain di Malaka. Menurut Werang, lokalisasi tradisi ini justru menambah nilai autentik yang dapat dikemas menjadi paket pariwisata budaya.

“Dengan kekuatan narasi filosofis, partisipasi massal, dan nuansa sakral yang kental, Hamis Oan dan Tebe Bei Mau sesungguhnya memiliki dasar yang kuat untuk dikembangkan menjadi produk pariwisata budaya andalan Malaka,” pungkas Werang.

Pengembangan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata tetapi juga melestarikan tradisi, memberdayakan ekonomi masyarakat lokal, dan memperkenalkan kekayaan budaya Malaka ke kancah yang lebih luas.

Editor : Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!