banner 728x250

Malaka Jadi Pusat Budaya Timor yang Layak Dikunjungi Wisatawan

banner 120x600
banner 468x60

Malaka – Kabupaten Malaka menegaskan posisinya sebagai jantung warisan dan pusat budaya masyarakat Timor. Status ini merupakan fakta sejarah yang telah hidup dan diakui turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Branding pariwisata budaya ini kini berpusat di Laran, Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, yang secara historis diyakini sebagai titik awal peradaban dan budaya Timor.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka, Aloysius Werang, menekankan bahwa klaim ini bukanlah bentuk klaim baru, melainkan pengakuan dan penguatan atas narasi sejarah yang sudah mengakar. “Secara turun-temurun dan catatan sejarah budaya Timor, pusatnya memang ada di Laran, Desa Wehali, Kabupaten Malaka. Ini adalah warisan yang harus kita jaga dan kembangkan,” ujarnya.

banner 325x300

Dukungan atas klaim tersebut terlihat dari kekayaan situs budaya yang tersebar luas di seluruh wilayah Malaka. Situs-situs tersebut menjadi bukti fisik dan jejak nyata peradaban masa lalu. Beberapa yang terkenal antara lain Rumah Adat Laran di Wehali sebagai situs inti, Rumah Adat Leunhat di Besikama (Malaka Barat), serta berbagai perkampungan adat seperti Liurai Malaka di Builaran, perkampungan adat di Asmanulea, Loro Dirma, Loro Lakekun, dan Loro Haitimuk.

Masih banyak lagi perkampungan adat lainnya yang menjadi penanda kehidupan budaya di setiap kecamatan. Potensi yang dimiliki oleh kumpulan situs bersejarah ini sangat besar untuk diangkat sebagai destinasi wisata budaya unggulan. Pemerintah daerah meyakini, dengan penataan dan pengelolaan yang baik, daya tariknya dapat menyedot minat wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyelami akar sejarah dan budaya Timor.

Menyadari peluang tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka saat ini terus melakukan pembenahan dan pengembangan infrastruktur pendukung. Fokusnya adalah membangun pariwisata budaya sebagai aset daerah berharga yang tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga patut dilestarikan untuk generasi mendatang.

Di balik upaya pemerataan ekonomi melalui pariwisata, gerakan ini juga diharapkan menjadi pemantik kesadaran baru. Diharapkan, geliat pariwisata budaya dapat menggugah para pemangku adat dan masyarakat pemilik warisan untuk lebih memperhatikan, menjaga, dan melestarikan rumah adat serta tradisi yang mereka miliki, sehingga warisan nenek moyang tetap hidup dan menjadi kebanggaan bersama.

Editor: Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!