Harekakae, Kabupaten Malaka — 8 Desember 2025
SMAN Harekakae menegaskan komitmennya dalam mendukung program pemerintah untuk menekan angka Anak Rentan Putus Sekolah (ARPS) melalui penerapan sistem jemput bola yang digerakkan langsung oleh para wali kelas dan guru. Kebijakan ini menjadi perhatian utama dalam rapat evaluasi akhir semester yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Robertus Bria Tahuk, S.Pd pada Senin (8/12/2025) di ruang kepala sekolah.
Melalui strategi jemput bola ini, guru-guru SMAN Harekakae aktif mendatangi rumah siswa yang mengalami kendala kesehatan, ekonomi, atau non-akademik yang berpotensi menghambat keberlanjutan pendidikan mereka. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun siswa yang tertinggal, terlebih menjelang penuntasan ujian semester ganjil.
“Kami tidak ingin ada anak SMAN Harekakae yang putus sekolah. Semua anak berhak menyelesaikan pendidikan menengah. Para guru sudah bekerja luar biasa, turun langsung ke rumah siswa, memastikan setiap anak mendapatkan haknya,” tegas Robertus.
Sistem Jemput Bola: Dari Cek Kendala sampai Antar Ujian Susulan
Dalam praktiknya, wali kelas turun langsung memeriksa kondisi siswa yang absen atau mengalami hambatan untuk hadir. Bagi siswa yang sakit, guru mengantar informasi ujian susulan, mengatur jadwal khusus, bahkan membantu memastikan kondisi psikologis siswa tetap terjaga.
Langkah ini menjadi bentuk tanggung jawab moral para guru yang terus digerakkan oleh semangat pengabdian, bukan semata kewajiban administratif. Banyak guru harus mengorbankan waktu istirahat, biaya pribadi, dan tenaga ekstra untuk menyambangi siswa — sebuah tindakan yang menunjukkan esensi “pahlawan tanpa tanda jasa”.
“Saya bangga dengan dedikasi guru-guru kami. Mereka tidak membiarkan anak-anak berjalan sendiri. Di lapangan, mereka adalah benteng terakhir agar siswa tidak tergelincir menjadi putus sekolah,” tambah Kepala Sekolah.
Hambatan Keuangan Tidak Menjadi Penghalang
Dalam rapat evaluasi, pihak sekolah memastikan bahwa keuangan Komite/IPB tidak dijadikan syarat mutlak untuk mengikuti ujian. Kebijakan ini penting untuk mencegah siswa dari keluarga rentan merasa terpinggirkan atau memilih berhenti sekolah karena tekanan biaya.
Sekolah telah menyurati para orang tua untuk mengomunikasikan keterlambatan pembayaran secara etis dan manusiawi, tanpa menimbulkan stigma bagi siswa. Pendekatan ini dipandang penting oleh pimpinan sekolah dalam menjaga iklim pendidikan yang inklusif dan penuh penghargaan terhadap kondisi sosial-ekonomi yang beragam.
Dedikasi Guru, Penyangga Utama Pendidikan
Upaya para guru SMAN Harekakae mendapat apresiasi kuat dari pihak sekolah. Banyak guru melaksanakan tugas di luar jam dinas demi memastikan kelancaran pelaksanaan ujian praktik maupun ujian susulan. Bahkan, dalam beberapa kasus, guru harus melakukan pendekatan personal dengan keluarga siswa untuk memahami akar masalah yang membuat siswa hampir putus sekolah.
Pengorbanan tersebut tidak hanya mempertahankan keberlanjutan pendidikan siswa, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa sekolah hadir sebagai mitra yang peduli terhadap masa depan anak-anak Malaka.
Zero ARPS di Tahun 2025–2026
SMAN Harekakae menargetkan nol kasus putus sekolah pada tahun 2025 hingga memasuki tahun ajaran 2026. Target ini dianggap realistis karena mengandalkan kolaborasi kuat antara guru, wali murid, pemerintah, dan komite sekolah.
“Kami ingin SMAN Harekakae dikenal bukan hanya karena prestasi olahraga dan akademik, tetapi sebagai sekolah yang memastikan tidak ada satu pun anak yang ditinggalkan,” ujar Robertus.
Sekolah sebagai Laboratorium Kehidupan dan Prestasi
Lewat program ARPS ini, SMAN Harekakae mengukuhkan diri sebagai laboratorium prestasi dan karakter. Pendidikan tidak hanya diukur dari nilai dan lomba, tetapi juga dari kemampuan sekolah menjaga setiap anak tetap berada di jalur pendidikan.
Pada akhirnya, komitmen mencegah anak putus sekolah adalah wujud nyata dari filosofi pendidikan nasional: mencetak manusia Indonesia yang cerdas, berakhlak, berdaya saing, dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
Editor : Boni Atolan.

















