Malaka, 5 Desember 2025
Di bawah rindang pepohonan Desa Kusa, suara tawa warga menyambut kedatangan rombongan TP PKK Provinsi NTT dan TP PKK Kabupaten Malaka. Namun sorak itu bukan sekadar menyambut tamu; ada sesuatu yang lebih dalam — sebuah harapan yang menetes perlahan dari tanah yang kembali ditanami anakan kelapa dalam. Harapan itu diberi nama “Kelapa SBS”, sebuah simbol kebangkitan bagi komoditi tua yang pernah menjadi denyut ekonomi Malaka.
Di tengah masyarakat yang berkumpul, Ketua TP PKK Kabupaten Malaka, Ny. Beatrix Bria Seran menamakan anakan kelapa yang ditanam ” kelapa SBS” . Bibit yang ditanam itu tegak seperti sebuah janji. Janji bahwa Malaka harus kembali pada kekayaan lamanya — hutan kelapa yang pernah menjadi kebanggaan seluruh daratan Timor.
Jejak Kejayaan: Ketika Malaka Menjadi Lumbung Kopra Daratan Timor
Sejarah panjang kelapa dalam di Malaka nyaris terlupakan. Pada tahun 1970–1980-an, daerah Malaka Barat, Weliman, Wewiku, Malaka Tengah hingga Kobalima dipenuhi hamparan kelapa dalam yang menjulang di setiap jarak pandang. Pepohonan itu bukan sekadar tanaman; mereka adalah sumber penghidupan ribuan keluarga.
Kopra dari Malaka pernah dicari hingga ke luar pulau. Pedagang Cina, Bugis, Jawa, Sabu, dan Timor sering singgah untuk membeli atau menukar hasil kebun ini. Warga tak pernah kehabisan pasokan minyak goreng, karena hampir setiap rumah tahu cara membuat minyak kelapa sendiri.
Namun kejayaan itu perlahan sirna. Transformasi lahan, perubahan pola konsumsi, dan minimnya pembibitan membuat kelapa dalam kehilangan tempatnya. Hutan kelapa ditebang, diganti sawah, diganti kebun campuran, bahkan dibiarkan mati tanpa regenerasi. Kini, banyak anak muda Malaka bahkan belum pernah melihat kebun kelapa rimbun seperti cerita orang tua mereka.
“Kita terlalu cepat melupakan kekayaan sendiri,” ujar Ny. Beatrix lirih saat berbicara di hadapan pers. “Padahal kelapa adalah tanaman yang tak pernah menuntut banyak, tapi selalu memberi banyak.”
Kusa: Lahan Simbolis, Gagasan Besar
Nama “Kelapa SBS” muncul bukan tanpa makna. Ia menjadi simbol bahwa pemerintahan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), dan Wakil Bupati HMS, memiliki tanggung jawab historis untuk menghidupkan kembali komoditi kelapa dalam melalui kebijakan yang terencana dan berkelanjutan.
“SBS adalah pemimpin sekarang. Beliau punya mandat, anggaran, dan pengaruh. Karena itu Kelapa SBS adalah pengingat: dari sinilah kebangkitan dimulai,” tegas Ny. Beatrix.
Gerakan Dua Pohon per Keluarga: Kecil, Tapi Menentukan Masa Depan
TP PKK Kabupaten Malaka kini mendorong gerakan sederhana namun strategis: menanam dua pohon kelapa per tahun per keluarga (KK). Dalam 5 tahun, setiap KK memiliki 10 pohon. Jika satu desa memiliki 500 KK, maka desa tersebut menanam 5.000 pohon baru dalam lima tahun. Jika diterapkan di seluruh Malaka, angka itu dapat mencapai ratusan ribu pohon.
Gerakan ini berbasis realitas bahwa kelapa adalah tanaman yang mampu tumbuh di berbagai kondisi. Tak butuh perawatan rumit. Tak memerlukan pupuk mahal. Dan yang lebih penting — bernilai ekonomi tinggi. Setiap pohon kelapa dewasa mampu menghasilkan hingga 80–120 butir per tahun, tergantung varietas dan kondisi tanah.
“Kalau bukan kita yang menanam, siapa yang akan menanam? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?” ujar Ny Beatrix
Umutnana: Bukti Kelapa Bisa Tumbuh di Mana Pun
Argumen bahwa kelapa tidak cocok ditanam di daerah pegunungan tertepis saat rombongan TP PKK mengunjungi Desa Umutnana di Kecamatan Sasitamean. Di desa berketinggian ratusan meter dari permukaan laut itu, kelapa tumbuh besar, kuat, dan menghasilkan buah dengan kualitas prima.
Rombongan provinsi sempat terpana ketika melihat kelapa muda berukuran besar, air jernih dan manis, yang disuguhkan warga. Bukan dibeli. Bukan hasil kiriman. Melainkan tanaman sendiri.
Kenyataan itu membuat gerakan penanaman kelapa dalam menjadi logis, realistis, dan mungkin diterapkan di seluruh wilayah — dari pesisir sampai perbukitan.
Kelapa: Tanaman Masa Depan di Era Ketidakpastian
Di tengah perubahan iklim, kelapa adalah salah satu tanaman yang mampu bertahan. Ia toleran terhadap musim kering, tahan panas, dan memiliki akar kuat. Di Malaka yang berada pada iklim semi-arid, kelapa adalah tanaman yang justru bisa menjadi penyelamat ekonomi keluarga pada masa paceklik.
Lebih jauh, nilai ekonominya tak hanya pada buah. Setiap bagian kelapa bisa dimanfaatkan:
Kopra untuk industri minyak
VCO untuk kesehatan dan kosmetik
Arang tempurung untuk ekspor
Serabut untuk bahan kerajinan
Daun untuk anyaman
Batang untuk bahan bangunan
Nira untuk gula dan minuman tradisional
Kelapa bukan tanaman biasa. Ia adalah ekosistem ekonomi.
Dorongan Bagi Pemerintah: Menghidupkan Kembali Kebijakan Kejayaan Kelapa
Berita ini tidak hanya memotret kondisi lapangan; ia juga menjadi panggilan bagi Pemkab Malaka agar kembali menempatkan budidaya kelapa dalam sebagai program strategis daerah. Pemerintah dapat:
1. Menghidupkan program rehabilitasi dan ekspansi kelapa dalam
Distribusi bibit unggul, pendampingan penyuluh, dan pemetaan lahan tidur desa.
2. Menyusun roadmap industri kelapa Malaka 2025–2035
Mulai dari produksi bibit, industri pengolahan, hingga pemasaran berbasis digital.
3. Mendorong tumbuhnya UMKM olahan kelapa
VCO, minyak kelapa tradisional, kopra putih, anyaman, hingga pangan olahan.
4. Menghubungkan petani dengan pasar luar daerah
Agar kelapa Malaka kembali berada di jalur perdagangan besar seperti era 70–80-an.
Kelapa bukan komoditi nostalgia. Ia adalah peluang masa depan.
Membangun Identitas: Malaka Sebagai Kabupaten Kelapa Dalam
Gerakan “Kelapa SBS” membawa pesan yang jauh lebih besar dari penanaman simbolis. Ia adalah upaya membangun ulang identitas daerah. Seperti Banyuwangi dengan kopinya, Flores dengan vanilinya, atau Alor dengan rumput lautnya — Malaka memiliki peluang besar untuk kembali mengusung kelapa sebagai ikon ekonomi.
Tanahnya subur. Iklimnya cocok. Leluhurnya memiliki pengetahuan panjang. Pasarnya tersedia. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan kolektif.
Kesimpulan: Kelapa SBS, Mimpi yang Bisa Tumbuh Menjadi Kenyataan
Kelapa SBS bukan sekadar bibit yang ditanam di Kusa. Ia adalah bentuk tekad. Ia adalah cerita tentang tanah yang ingin kembali berbuah. Tentang masyarakat yang ingin kembali makmur. Tentang pemerintah yang diharapkan hadir membangun fondasi komoditi jangka panjang.
Jika hari ini Malaka menanam bersama, maka lima belas tahun lagi, anak-anak Malaka akan tumbuh dalam bayang hijau pohon kelapa — sama seperti generasi 70–an dulu. Dan dari sanalah kesejahteraan baru dapat muncul.
“Menanam kelapa hari ini adalah menanam masa depan.”
Dan masa depan itu dimulai dari Desa Kusa dan desa kita masing-masing. **

















