Malaka –
Kunjungan kerja Ketua TP PKK Provinsi NTT di Malaka bukan hanya seremoni. Kunjungan ini membawa pesan strategis tentang bagaimana membangun kabupaten dari akar rumput: desa, keluarga, dan komunitas lokal.
Dalam kunjungan kerja ini tergambar bagaimana sinergi PKK Provinsi–Kabupaten–Desa mampu menggerakkan perubahan nyata.
1. Peran Strategis PKK: Dari Pendidikan, Ekonomi hingga Literasi
Selain sebagai Ketua TP PKK Provinsi, Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena juga menjabat sebagai Bunda PAUD, Ketua Dekranasda, Bunda Literasi, dan beberapa fungsi strategis lain. Berbagai peran itu menegaskan betapa PKK saat ini adalah organisasi multifungsi: dari ekonomi kreatif hingga pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, PKK adalah mitra strategis pemerintah desa dan kabupaten. Karena itu, ia meminta agar musrenbang desa, rembuk stunting, serta penyusunan RPJM Desa wajib melibatkan PKK secara penuh, bukan formalitas.
2. Rembuk Desa sebagai Ruang Penentu Anggaran
Ketua TP PKK menegaskan bahwa perempuan harus hadir dalam rembuk desa dan musrenbang.
“Kalau mau kebutuhan ibu-ibu didengar, harus datang ke rembuk desa. Jangan diam. Sampaikan apa yang dibutuhkan keluarga.”
Pesan ini penting karena proses politik lokal sering kali didominasi laki-laki. Dengan hadirnya perempuan, suara tentang kebutuhan PAUD, gizi anak, sanitasi, kekerasan, hingga ekonomi rumah tangga dapat terakomodasi dalam anggaran desa.
3. Dapur MBG: Simbol Kolaborasi Ekonomi Keluarga
Dapur MBG menjadi model bagaimana pemerintah daerah dan perempuan dapat menghasilkan perubahan langsung. Ketua TP PKK mengapresiasi langkah Pemkab Malaka yang menggandeng kelompok tani, kelompok mama-mama, dan diklat pertanian untuk memastikan suplai pangan dapur MBG terpenuhi.
Ia mengatakan bahwa dapur MBG tidak hanya harus memasak makanan bergizi, tetapi juga menjadi tempat belajar ekonomi rumah tangga. Aktivitas ini dapat membuka peluang pendapatan baru melalui usaha pangan lokal.
4. Kolaborasi PKK dan Lembaga Agama
Aspek menarik dari kunjungan ini adalah ajakan Ketua TP PKK agar lembaga agama seperti gereja dan masjid terlibat aktif dalam perlindungan perempuan dan anak. Ia mengutip berbagai peristiwa gerejawi untuk menunjukkan bahwa negara dan lembaga agama selalu terhubung dalam sejarah.
Menurutnya, gereja dan masjid harus menjadi ruang aman. Ia meminta agar rohaniwan selalu diundang untuk mengawal kegiatan masyarakat dan pemerintah dalam doa, sebagai simbol keterhubungan antara kehidupan spiritual dan kehidupan sosial.
5. Kreativitas Tarian Anak sebagai Representasi Pendidikan Karakter
Kreativitas seni anak-anak Desa Umutnana menjadi perhatian serius Ketua TP PKK. Baginya, pendidikan tidak hanya tentang angka dan teori, tetapi juga tentang ekspresi budaya.
Anak-anak menampilkan tarian perpaduan budaya lokal yang menunjukkan bahwa pendidikan karakter berjalan baik di desa ini. Ia mendorong sekolah-sekolah di Malaka meniru langkah tersebut untuk memperkuat identitas kultural generasi muda.
6. Pesan Besar: Pembangunan Dimulai dari Rumah dan Desa
Ketua TP PKK menutup kunjungannya dengan pesan kuat: pembangunan sejati tidak dimulai dari gedung pemerintah, tetapi dari rumah—dari ibu, lingkungan keluarga, tetangga, dan desa.
Malaka dipuji sebagai kabupaten yang memiliki fondasi kuat: kebudayaan yang hidup, masyarakat yang solid, dan program pemerintah yang berpihak pada keluarga. Karena itu, ia optimistis Malaka dapat menjadi contoh pemberdayaan perempuan dan penanganan stunting di NTT.**

















