banner 728x250

Pasang Maksimal, Was-Was Maksimal: Banjir Rob Kepung Pesisir Tanjungpinang

Fenomena Perigee dan Purnama bikin air laut naik, warga pesisir diminta siap siaga hingga 13 Desember

banner 120x600
banner 468x60

Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Banjir rob kembali menyapa, lebih tepatnya, menyapa dengan cara yang sangat tidak diharapkan, sejumlah wilayah pesisir di Kota Tanjungpinang, pada Sabtu, 6 Desember 2025. Air pasang merembes masuk ke pemukiman warga di Senggarang, Kampung Bugis, Kampung Bulang, Tanjungpinang Kota, Sei Jang, hingga Tanjung Ayun Sakti.

Tinggi genangan memang tidak sampai setinggi lutut, hanya berkisar 5 hingga 20 sentimeter atau selevel mata kaki orang dewasa. Namun, untuk warga yang rumahnya persis berhadapan dengan laut, ukuran itu lebih dari cukup untuk membuat aktivitas harian ikut “kelelep”.

banner 325x300

BMKG Tanjungpinang menjelaskan bahwa banjir rob kali ini bukan sekadar banjir rob biasa. Prakirawan Robbi menyebutkan, pasang maksimum terjadi karena fenomena fase Perigee, yaitu momen ketika jarak bulan berada di titik terdekat dengan bumi. Masalahnya, fase ini datang bersamaan dengan Bulan Purnama 4 Desember 2025, kombo pasang tertinggi yang bikin air laut naik lebih agresif.

“Fase ini meningkatkan potensi pasang maksimum air laut,” ujar Robbi.

Bukan hanya pemukiman yang terganggu. Aktivitas pelabuhan, tambak garam, hingga sektor perikanan darat ikut kena imbasnya. BMKG mengimbau warga pesisir untuk tetap waspada dan rutin memantau peringatan dini banjir rob.

Sementara itu, BPBD Tanjungpinang sudah lebih dulu menerima surat peringatan dini dari BMKG yang menyebut pasang air laut diprediksi meningkat dari 4 hingga 13 Desember 2025. Kepala BPBD, M. Yamin, mengatakan pihaknya telah memberikan sosialisasi kepada masyarakat pesisir untuk meminimalkan risiko.

“Masyarakat diimbau tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan saluran air, memperkokoh tiang serta dinding rumah, dan mematikan listrik jika air mulai masuk ke rumah,” terang Yamin.

Imbauan itu masih ditambah dengan sejumlah catatan penting: warga diminta menyiapkan persediaan makanan, melarang anak-anak bermain di air pasang, waspada terhadap hewan berbisa yang ikut “menumpang”, dan rajin memantau informasi cuaca. Jika situasi memburuk, evakuasi mandiri maupun lewat RT/RW, lurah, atau BPBD bisa dilakukan.

“Dengan langkah antisipatif ini, diharapkan masyarakat dapat meminimalkan risiko dan dampak dari banjir rob yang melanda wilayah pesisir Tanjungpinang,” tutup Yamin.

Air sedang naik, waspada juga harus ikut naik. Di tengah kombinasi Perigee dan Purnama, warga Tanjungpinang kini tengah menjalani hari-hari pasang yang menuntut kesiapsiagaan ekstra.

Editor: Budi Adriansyah
Sumber: BMKG

 

banner 325x300
error: Content is protected !!