banner 728x250

Tragis, Kematian Pedet Capai 33%: Dinas Peternakan Malaka Galakkan Program “Pedet DiKandangkan”

banner 120x600
banner 468x60

BETUN, 3 Desember 2025

– Tingkat kematian anak sapi (pedet) di Kabupaten Malaka masih dalam angka yang mengkhawatirkan, mengikuti pola di tingkat provinsi NTT yang pernah mencapai 33,3% atau setara dengan kerugian Rp 75 miliar per tahun. Menyikapi hal ini, Dinas Peternakan setempat akan menggalakkan program penyelamatan pedet.

banner 325x300

“Ini adalah pemborosan sumber daya yang sangat besar. Setiap pedet yang mati adalah calon indukan atau sapi potong yang hilang, dan itu berarti kerugian ekonomi langsung bagi keluarga peternak,” ujar Metilde Seran, Plh. Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malaka, dengan nada prihatin.

Penyebab utama kematian pedet, menurutnya, adalah praktik tradisional dimana anak sapi ikut digembalakan dalam cuaca panas dengan akses air terbatas, membuat mereka stres, kelelahan, dan rentan sakit. “Ditambah kelangkaan pakan dan air di musim kemarau, daya tahan pedet menjadi sangat lemah,” tambah Seran.

Berdasarkan penelitian Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) yang sukses menekan mortalitas hingga 3%, Dinas Peternakan Malaka akan mendorong program “Pedet DiKandangkan”.
“Rekomendasinya jelas:pedet tidak boleh ikut digembalakan hingga usia tertentu. Mereka harus dikandangkan, diberi pakan tambahan berkualitas seperti jagung giling, dedak, dan tepung daun lamtoro selama 4 minggu pertama, dan hanya disusui oleh induknya pada malam hari,” papar Seran secara rinci.

Program ini rencananya akan disosialisasikan secara masif dan didukung dengan pendampingan teknis. “Kami harus mengubah paradigma bahwa kematian pedet adalah hal biasa. Ini adalah kerugian yang harus dan bisa dicegah,” tegasnya.

 

Editor : Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!