Betun, – Kabupaten Malaka, dengan populasi ternak sapi mencapai 74.139 ekor, mencatatkan diri sebagai daerah dengan populasi sapi terbesar keempat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, potensi besar ini menghadapi tantangan signifikan akibat tidak adanya infrastruktur pelabuhan laut di wilayah tersebut.
Plh. Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Malaka, Metilde Seran, menjelaskan bahwa sektor peternakan, khususnya sapi, merupakan salah satu sektor unggulan daerah untuk meningkatkan ekonomi peternak dan pendapatan asli daerah (PAD).
“Populasi ternak kita cukup besar, tidak hanya sapi tetapi juga babi 77.374 ekor dan ayam 480.086 ekor. Ini aset strategis untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Metilde Seran, seperti dalam proposal pengembangan peternakan.
Namun, kata dia, ketiadaan pelabuhan laut menjadi hambatan utama. Selama ini, pengiriman ribuan sapi ke luar daerah, baik antar kabupaten maupun ke Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, harus melalui pelabuhan di kabupaten tetangga seperti Pelabuhan Atapupu di Belu, Wini di TTU, dan Tenau di Kupang.
“Begitu pula dengan impor bahan pakan dan obat-obatan, semua melalui daerah lain. Ini jelas menambah biaya logistik yang akhirnya membebani biaya produksi peternak,” paparnya.
Menurutnya, keberadaan pelabuhan laut di Malaka merupakan sebuah keniscayaan. Secara geografis, Malaka berbatasan dengan Samudra Hindia dan Timor Leste, sehingga posisinya sangat strategis.
“Dengan memiliki pelabuhan sendiri, biaya logistik dapat dipangkas. Efeknya, harga pakan dan obat-obatan bisa lebih terjangkau, dan yang tak kalah penting, penyusutan bobot sapi selama proses pengiriman yang panjang dapat diminimalisir,” jelas Seran.
Ia meyakini, pelabuhan laut akan memberikan multiplier effect atau efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi lokal, mulai dari memudahkan pemasaran hasil ternak, menyediakan suplai pakan yang kontinu, hingga meningkatkan kontribusi subsektor peternakan terhadap PAD.
“Pengajuan proposal ini bertujuan untuk memberikan gambaran strategis bahwa pelabuhan laut bukan hanya tentang transportasi, tetapi tentang mendongkrak seluruh mata rantai ekonomi peternakan di Malaka,” tandasnya.
Kabupaten Malaka tercatat rutin mengirimkan 5.000 hingga 8.000 ekor sapi setiap tahunnya ke luar daerah. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, angka ini diharapkan dapat meningkat seiring dengan membaiknya daya saing dan efisiensi usaha peternakan rakyat.
Editor : Boni Atolan

















